Showing posts with label Model Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Model Pembelajaran. Show all posts

Sunday, 7 February 2016

MODEL PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE


http://pendidikanuntukindonesiaku2.blogspot.com/2016/02/model-pembelajaran-think-talk-write.html
Model Pembelajaran Think Talk Write
 

Model pembelajaran think talk write merupakan salah satu model pengembangan pembelajaran inovatif (Suherman, 2009). Think talk write merupakan model pembelajaran yang menekankan pentingnya belajar efektif dan bermakna. Efektif berarti sesuai tujuan, sedangkan bermakna berarti belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas berpikir, berbicara, dan menulis (membaca, bertanya, menjawab, berkomentar, mengerjakan, mengkomunikasikan, presentasi, diskusi, notulensi). Hal tersebut sebagaimana dikemukakan Suherman (2009: 14) bahwa “model pembelajaran think talk write adalah model pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan alternative solusi), hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi, dan kemudian buat laporan hasil presentasi”.

Menurut Vernon A Madnesen dan Peter Sheal dalam Suherman (2009: 6) bahwa:
Kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cara belajar murid. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan hanya mencapai 10%, dari mendengar 20%, dari melihat 30%, mendengar dan melihat 50%, mengatakan-komunikasi mencapai 70 %, dan belajar dengan melaku-kan dan mengkomunikasikan bisa mencapai 90%.
 
Think talk write secara harfiah berarti “berpikir”, “berbicara”, dan “menulis”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, berpikir adalah “menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dalam ingatan”, berbicara adalah “melahirkan pendapat dengan perkataan”, dan menulis adalah “melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan”.

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model think talk write adalah model pembelajaran efektif dan bermakna yang dimulai dari berpikir melalui bahan bacaan, hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi dan diskusi, selanjutnya kemampuan menulis melalui pembuatan laporan hasil presentasi.

Ciri pembelajaran think talk write terletak pada prosesnya yang merangsang, melatih dan mengembangkan kemampuan murid pada tiga aspek yakni: kesadaran berpikir, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan menulis.

1) Kesadaran berpikir adalah berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya, yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. Kesadaran berpikir setiap individu akan berlainan, tergantung dari variabel metakognitif, yaitu kondisi individu, kompleksitas, pengetahuan, pengalaman, manfaat, dan strategi berpikir. Holler dalam Suherman (2009) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu, monitoring, dan regulasi. Kesadaran berpikir memuat unsur analisis, sintesis, dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran semestinya membiasakan murid untuk melatih kemampuan berpikir, tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal.

2) Kemampuan berkomunikasi di mana murid dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar murid, murid dengan fasilitas belajar, ataupun dengan guru. Kemampuan komunikasi setiap murid akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk keperibadiannya. Untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain, murid harus bisa menguasai dua fungsi yang berbeda yaitu kemampuan menangkap maksud yang ingin dikomunikasikan orang lain dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti oleh orang lain. Komunikasi dapat dilakukan dalam setiap bentuk bahasa: tulis, lisan, isyarat, ungkapan musik, artistic dan sebagainya, tetapi dalam banyak hal bahasa lisan merupakan alat komunikasi yang paling efisien. Perkembangan bahasa berkaitan erat dengan kematangan syaraf dan alat bicara serta lingkungannya. Dimulai dengan mengucapkan kata-kata, membangun kosa kata dan membuat kalimat, makin bertambah usia akan makin terampil bicara dan seiring dengan perkembangan intelektualnya individu akan mampu meningkatkan pengertian dan pemahaman isi pembicaraan.

Kemampuan menulis merupakan proses penyampaian pesan kepada pihak lain secara tertulis. Sebagai proses, menulis terdiri atas tahap prapenulisan, menulis, dan pascapenulisan. Adapun membaca merupakan proses penyampaian pesan secara tertulis dari pihak lain. Komunikasi tertulis adalah kegiatan komunikasi yang menggunakan sarana tulisan yang dapat menggambarkan atau mewakili komunikasi lisan termasuk ke dalamnya adalah menulis dan membaca.

Model pembelajaran think talk write sebagai bagian dari sistem pembelajaran inovatif dan bersifat kooperatif akan memberikan manfaat berupa:

  1. Mengantarkan murid pada pembelajaran bermakna yaitu belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca, bertanya, menjawab, berkomentar, mengerjakan, mengkomunikasi-kan, presentasi, diskusi) (Suherman, 2009).
  2. Bagi guru dengan think talk write menjadikan dirinya sebagai fasilitator dalam kegiatan murid untuk mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri (Suherman, 2009).
  3. Melatih kemampuan belajar murid secara kolektif, diantaranya: (a) setiap anggota memiliki peran, (b) terjadi hubungan interaksi langsung di antara murid, (c) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya, (d) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, (e) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan (Carin, 1993).
  4. Karena adanya ciri pembelajaran kooperatif, maka memberikan manfaat adanya penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil (Slavin, 1995).
Untuk menerapkan model pembelajaran think talk write, menurut Suherman (2009) langkah-langkah pembelajarannya (sintaksnya) meliputi:
  1. Menyiapkan bahan bacaan.
  2. Membagi kelas ke dalam beberapa kelompok kecil heterogen.
  3. Salah seorang murid dari masing-masing kelompoknya membacakan bahan bacaan yang telah dibagikan oleh guru.
  4. Anggota kelompok yang lain berpikir dengan menyimak, mengkritisi, dan memberikan alternative solusi terhadap munculnya dilema atau masalah pada bahan bacaan.
  5. Hasil bacaan selanjutnya dikomunikasikan dengan presentasi masing-masing kelompok dan dilanjutkan dengan diskusi.
  6. Membuat laporan hasil presentasi dan diskusi.
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Carin, A.A. 1993. Teaching Modern Science. New York:Mcmillan Publishing Company.
 
Suherman, E. 2009. Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi Murid. Educare; Jurnal Pendidikan dan Budaya. ISSN 1412-579x, (Online) http://educare.e-fkipunla.net

Saturday, 6 February 2016

MODEL PEMBELAJARAN MAKE A-MATCH

http://pendidikanuntukindonesiaku2.blogspot.com/2016/02/model-pembelajaran-make-match.html
Model Pembelajaran Make A-Match

 
Model pembelajaran make a-match merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang berangkat dari prinsip reformasi pembelajaran yang terlalu berpusat kepada guru dengan sajian verbalisme yang mendominasi. Model make a-match memiliki karakteristik sebagai pembelajaran yang memiliki nuansa bermain. Permainan merupakan alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya, dari yang tidak dikenali sampai pada yang diketahui, dan dari yang tidak dapat diperbuatnya sampai mampu melakukannya.
Bermain bagi anak memiliki nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari. Pada permulaan setiap pengalaman bermain memiliki resiko. Ada resiko bagi anak untuk belajar misalnya naik sepeda sendiri, belajar meloncat. Unsur lain adalah pengulangan. Anak mengkonsolidasikan ketrampilannya yang harus diwujudkannya dalam berbagai permainan dengan nuansa yang berbeda. Dengan cara ini anak memperoleh pengalaman tambahan untuk melakukan aktivitas lain. Melalui permainan anak dapat menyatakan kebutuhannya tanpa dihukum atau terkena teguran misalnya bermain dadu yang memiliki karakteristik menghitung.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model belajar make a-match adalah model model pembelajaran yang memiliki karakteristik sebagai pembelajaran yang memiliki nuansa bermain di mana murid mencarikan pasangan kartu soal dengan kartu jawaban sesuai.
 
B. Karakteristik model make-a-match
Berkaitan dengan permainan Pellegrini dan Saracho dalam Wood (1996) permainan memiliki sifat sebagai berikut: (1) Permaianan dimotivasi secara personal, karena memberi rasa kepuasan. (2) pemain lebih asyik dengan aktivitas permainan (sifatnya spontan) ketimbang pada tujuannya. (3) Aktivitas permainan dapat bersifat nonliteral. (4) Permainan bersifat bebas dari aturan-aturan yang dipaksakan dari luar, dan aturan-aturan yang ada dapat dimotivasi oleh para pemainnya. (5) Permainan memerlukan keterlibatan aktif dari pihak pemainnya.
Adapun Framberg dalam (Berky, 1995) permainan merupakan aktivitas yang bersifat simbolik, yang menghadirkan kembali realitas dalam bentuk pengandaian misalnya, bagaimana jika, atau apakah jika yang penuh makna. Dalam hal ini permainan dapat menghubungkan pengalaman-pengalaman menyenangkan atau mengasyikkan, bahkan ketika murid terlibat dalam permainan secara serius dan menegangkan sifat sukarela dan motivasi datang dari dalam diri murid sendiri secara spontan.
 
Sedangkan Hidayat (1980:5) mengemukakan bahwa “permainan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) adanya seperangkat aturan yang eksplisit yang mesti diindahkan oleh para pemain, (2) adanya tujuan yang harus dicapai pemain atau tugas yang mesti dilaksanakan”.
Dalam pembelajaran make a-match unsur dasar yang mesti adalah penggunaan kartu. Penggunaan kartu berseri (flash card) terdiri dari dua bentuk yakni kartu yang berisi soal-soal matematika yang harus dipecahkan dan kartu yang berisi jawaban atas sejumlah kartu soal. Sehingga dalam proses pembelajaran make a-match permulaan guru dapat menggunakan strategi bermain dengan memanfaatkan kartu-kartu tersebut. Kartu-kartu tersebut digunakan sebagai media dalam permainan matematika. Murid diajak bermain dengan memecahkan masalah matematika yang tertera dalam kartu soal kemudian mencari pasangan yang tepat pada kartu jawaban. Setelah itu menyerahkan kepada guru untuk dikonfirmasi dan selanjutnya kartu dikembalikan untuk teman berikutnya.
Titik berat latihan menyelesaikan soal adalah ketrampilan menggunakan operasi penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian sesuai level atau tingkat pembelajaran anak kelas dasar III. Suherman (2008: 19) mengemukakan model pembelajaran make a-match memiliki dengan sintaks sebagai berikut:
  1. Guru menyiapkan kartu beseri yang berisi persoalan-permasalahan matematika dan kartu yang berisi jawabannya atas kartu soal;
  2. Untuk trik mengecoh murid sekaligus menguji ketelitian murid, untuk kartu berseri jawaban dibuat lebih disbanding kartu soal;
  3. Kemudian setiap murid mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya;
  4. Setelah jawaban diperoleh setiap murid mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya;
  5. Murid yang mendapatkan jawaban benar mendapat nilai (reward);
  6. Kartu soal dan jawaban dikumpul lagi dan dikocok;
  7. Untuk babak berikutnya pembelajaran seperti babak pertama;
  8. Lakukan penyimpulan dan evaluasi
  9. Refleksi.
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Suherman, E. 2009. Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi Murid. Educare; Jurnal Pendidikan dan Budaya. ISSN 1412-579x, (Online) http://educare.e-fkipunla.net
 

MODEL PEMBELAJARAN STRUCTURE AND PICTURE



http://pendidikanuntukindonesiaku2.blogspot.com/2016/02/model-pembelajaran-structure-and-picture.html
Model Pembelajaran Structure and Picture
 

A. Pengertian Model Pembelajaran Structure and Picture
Model pembelajaran structure and picture merupakan salah satu model pengembangan pembelajaran inovatif (Suherman, 2009). Di samping itu, model structure and picture merupakan model pembelajaran yang menekankan pentingnya belajar efektif dan bermakna. Efektif karena sesuai tujuan, sedangkan bermakna karena murid belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas, berpikir, melihat, menjawab, berkomentar,  mengomunikasikan, dan mempresentasikan.

Structure and picture secara etimologis berarti “struktur dan gambar”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, struktur adalah “cara sesuatu disusun atau dibangun; susunan; bangunan; atau yang disusun dengan pola tertentu”, sedangkan gambar adalah “tiruan barang (orang, binatang, tumbuhan, dan sebagainya) yang dibuat dengan coretan pensil dan sebagainya pada kertas dan sebagainya”. Oleh karena itu, dapat diintegrasikan pemahaman bahwa model pembelajaran structure and picture adalah model pembelajaran menyusun gambar secara sistematis sehingga pesan atau makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami.

Adapun Suherman (2009: 14) mengemukakan lebih jelas bahwa model pembelajaran structure and picture adalah “model pembelajaran yang memperlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi, di mana murid mengurutkan gambar sehingga sistematik, kemudian guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut dan menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar”. Model structure and picture dalam keseharian kehidupan bermain anak dapat kita temukan prinsipnya dalam permainan bongkar pasang dengan gambar tertentu.

Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran structure and picture adalah model pembelajaran efektif dan bermakna yang menyajikan gambar kegiatan berkaitan dengan materi, di mana murid mengurutkan gambar sehingga sistematik, kemudian guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut dan menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar.
 
B. Langkah-langkah pembelajaran structure and picture
Untuk menerapkan model pembelajaran structure and picture, menurut Suherman (2009) langkah-langkah pembelajarannya (sintaksnya) meliputi:
  1. Guru menginformasikan kompetensi pembelajaran yang ingin dicapai oleh murid;
  2. Guru menyajikan materi pembelajaran;
  3. Guru bersama dengan murid membentuk kelompok kecil heterogen;
  4. Guru memperlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi kepada masing-masing kelompok;
  5. Murid bersama dengan anggotanya mengurutkan gambar sehingga sistematis;
  6. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya, dan kelompok lain dapat mengkritisi, menyanggah ataupun memberikan masukan;
  7. Guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut apakah sesuai atau relevan dengan materi pembelajaran;
  8. Guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar;
  9. Guru bersama dengan murid melakukan penyimpulan, evaluasi dan refleksi.
C. Manfaat model pembelajaran structure and picture
Model pembelajaran structure and picture sebagai bagian dari model pembelajaran inovatif dan bersifat kooperatif akan memberikan manfaat berupa:
  1. Mengantarkan murid pada pembelajaran bermakna yaitu belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca, bertanya, menjawab, berkomentar, mengerjakan, mengkomunikasikan, presentasi, diskusi). Di samping itu, dalam prosesnya terdapat unsur belajar sambil bermain sehingga anak-anak tidak merasa jenuh belajar di kelas karena dunianya yaitu dunia bermain tidak dijauhkan (Suherman, 2009).
  2. Karena adanya ciri pembelajaran kooperatif dalam model structure and picture, maka memberikan manfaat adanya penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil (Muslich, 2007).
  3. Karena model pembelajaran  structure and picture menggunakan media gambar dalam proses pembelajarannya, maka memberikan manfaat diantaranya menurut  Sukarno (1994: 16) adalah: a) gambar mudah diperoleh baik dengan cara menggambar sendiri atau diperoleh dari koran/majalah; b) gambar mudah digunakan dan tanpa memerlukan alat bantu; c) gambar dapat diperbesar atau diperkecil; dan d) dengan menggunakan OHP (overhead projector) gambar dapat diproyeksikan pada layar. Hal ini dilakukan jika gambar ingin diperbesar sementara dan dilihat oleh banyak murid.

DAFTAR PUSTAKA
 
  • Muslich, M. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Suherman, E. 2009. Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi Murid. Educare; Jurnal Pendidikan dan Budaya. ISSN 1412-579x, (Online) http://educare.e-fkipunla.net
  • Sukarno. 1994. Media Pembelajaran. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru, Depdikbud.

Monday, 11 January 2016

MODEL PEMBELAJARAN GRUP INVESTIGATION


http://pendidikanuntukindonesiaku2.blogspot.com/2016/01/model-pembelajaran-grup-investigation.html
MODEL PEMBELAJARAN GRUP INVESTIGATION
 

A. Karakteristik Group Investigation
Salah satu bentuk pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan konstruktivis adalah pembelajaran berbentuk kelompok kooperatif seperti kelompok penyelidik (group investigation). Model pembelajaran group investigasi sering dipandang sebagai model yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Model group investigation adalah satu model pembelajaran dimana para pelajar secara kolaboratif dalam kelompoknya memeriksa, mengalami dan memahami topik kajian mereka dan melibatkan siswa sejak perencanaan.

Menurut Slavin dalam Muslich (2007: 229) bahwa:
Pendekatan konstruktivis dalam pengajaran menerapkan pembelajaran kelompok kooperatif secara ekstensif, atas dasar teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan konsep-konsep tersebut dengan temannya.
 
Pembelajaran dengan model group investigation turut menambah unsur-unsur interaksi sosial pada pembelajaran. Di dalam pembelajaran model group investigation, siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam beberapa kelompok yang terdiri atas 4 atau 5 siswa, dengan kemampuan yang heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri dari campuran kemampuan akademik siswa, jenis kelamin, dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan pendapat dan bekerja melakukan penyelidikan untuk memecahkan masalah dengan teman yang berbeda latar belakangnya. Menurut Lie dalam Rahman (2007: 21) bahwa “kelompok penyelidik biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang berkemampuan akademis sedang, dan satu orang berkemampuan akademis rendah”.

Selama belajar melalui group investigation siswa tetap berada dalam kelompoknya untuk beberapa kali pertemuan. Mereka diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang aktif, memberi penjelasan kepada teman kelompok dengan baik, berdiskusi, dan sebagainya. Salah satu penunjang agar pembelajaran kelompok penyelidik dapat terlaksana dengan baik adalah siswa diberikan lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selain itu, unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kelompok penyelidik perlu ditanamkan kepada siswa. Menurut Ibrahim, dkk. dalam Rahman (2007: 22) unsur-unsur dasar dalam pembelajaran group investigation adalah sebagai berikut:
  1. Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan”.
  2. Setiap siswa memiliki tanggung jawab terhadap siswa lainnya dalam kelompoknya, disamping tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
  3. Siswa haruslah berpandangan bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
  4. Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
  5. Setiap siswa akan diberikan evaluasi atau penghargaan yang akan berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
  6. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
  7. Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani di dalam kelompoknya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa ciri-ciri atau karakteristik dari pembelajaran group investigation adalah sebagai berikut:
  1. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
  2. Jika memungkinkan, setiap anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda.
  3. Siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
  4. Penghargaan lebih dominan berorientasi kelompok daripada individual.
Berdasarkan ciri-ciri dari pembelajaran group investigation di atas, dapat dikemukakan bahwa dengan pembelajaran kelompok penyelidik memberikan kesempatan siswa dengan berbagai latar belakang kemampuan dan kondisi sosial untuk bekerja sama, saling bergantung dan belajar saling menghargai satu dengan lainnya. Dalam penelitian ini, heterogenitas kelompok lebih difokuskan pada kemampuan akademis (prestasi matematika yang telah diperoleh siswa).
 
Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan guru, dan setiap anggota kelompok harus saling membantu untuk mencapai ketuntasan materi tersebut. Belajar belum selesai jika masih ada anggota dalam kelompok belum menguasai materi pelajaran. Apabila ada siswa memiliki pertanyaan, teman satu kelompoknya diminta untuk  menjelaskan, sebelum menanyakan jawabannya kepada guru. Dengan demikian, pembelajaran kelompok penyelidik dapat membuat siswa secara aktif menverbalisasi gagasan-gagasan dan dapat mendorong munculnya refleksi yang mengarah pada pembentukan konsep. Selain itu, siswa juga dapat memiliki keterampilan-keterampilan untuk bekerjasama yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
 
Menurut Slavin dalam Rahman (2007: 24) pembelajaran model group investigationmempunyai urutan kegiatan sebagai berikut:
  1. Mengajar: mempresentasikan pelajaran.
  2. Belajar dalam kelompok: siswa bekerja dalam kelompok mereka dengan dipandu oleh lembar kegiatan siswa untuk menuntaskan materi pelajaran.
  3. Tes: siswa mengerjakan kuis atau tugas secara individual.
  4. Penghargaan kelompok: skor tim dihitung berdasarkan skor peningkatan anggota kelompok, laporan berkala kelas, atau papan pengumuman digunakan untuk memberi penghargaan kepada tim yang berhasil mencetak skor tinggi.
 
Dalam penelitian ini, urutan kegiatan pembelajaran kelompok penyelidik yang digunakan adalah sebagai berikut:

1) Presentasi Materi Pelajaran
Materi pelajaran pada awalnya akan diperkenalkan oleh guru melalui penyajian kelas dengan menggunakan RPP yang telah disiapkan.

2) Belajar dalam Kelompok
Setelah guru menyajikan materi pelajaran, setiap kelompok bekerja dengan menggunakan kartu soal.

3) Tes/Evaluasi
Setelah selesai satu sub pokok bahasan, siswa akan diberikan tes (kuis) secara individual dan tidak diperbolehkan saling membantu. Dengan demikian, siswa sebagai individu bertanggung jawab untuk memahami materi pelajaran.

4) Penghargaan Kelompok
Kelompok akan diberikan penghargaan jika memperoleh skor rata-rata melebihi kriteria tertentu (skor kelompok dihitung dengan menambahkan skor peningkatan tiap-tiap anggota kelompok dan membagi dengan jumlah anggota kelompok).
 
Dalam kaitannya dengan pembelajaran kelompok penyelidik yang bersifat kooperatif, menurut Arends dalam Muslich (2007: 229) terdapat enam fase atau langkah utama dalam pembelajaran kelompok sebagaimana dirangkum pada Tabel 2.1 berikut ini.
Tabel 2.1
 
Aktivitas guru dalam pembelajaran dengan model group investigation adalah: (1) menginformasikan masalah yang harus dikerjakan bersama dalam kelompok, (2) meminta siswa mengerjakan tugas pada kartu soal dengan bekerjasama dalam kelompok, (3) memberi arahan agar siswa selalu berada dalam tugas kelompok, (4) mengontrol/berkeliling memperhatikan kerja kelompok, (5) membimbing/memberi bantuan kepada siswa dalam aktivitas kelompok, (6) mengajukan pertanyaan yang merangsang berpikir siswa, (7) memberi umpan balik, dan (8) kegiatan di luar tugas.
 
C. Aktifitas Siswa dalam group investigation
Dalam pembelajaran group investigation, siswa tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi siswa juga harus melakukan aktifitas yang ada hubungannya dengan tugas memecahkan masalah matematika. Aktifitas siswa di dalam kelas dapat dibagi menjadi dua, yaitu: (1) aktivitas siswa di dalam tugas (on-task), dan (2) aktivitas siswa di luar tugas (off-task). Dalam kaitannya dengan aktivitas siswa di dalam tugas, dapat digolongkan menjadi dua yakni, aktivitas aktif dan aktivitas pasif. Kedua jenis aktivitas tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Aktivitas Aktif : Empat kategori aktivitas aktif di dalam tugas, seperti:
a) Menyelesaikan masalah secara mandiri.
b) Membuat catatan tertulis.
c) Memberi penjelasan.
d) Mengajukan pertanyaan atau menawarkan (meminta) bantuan.
2) Aktivitas Pasif: Aktivitas siswa di dalam tugas yang dikategorikan pasif adalah :
a) Mendengar penjelasan.
b) Membaca materi ajar.
c) Siswa nampak berpikir untuk menyelesaikan suatu masalah atau memperhatikan apa yang dikerjakan temannya.

Selanjutnya, aktivitas siswa dikelompokkan ke dalam aktivitas di luar tugas apabila siswa melakukan kegiatan di luar tugas yang dihadapi. Aktivitas yang dikategorikan dalam kelompok ini adalah: (1) siswa mengobrol/bercakap-cakap hal-hal yang tidak berkaitan dengan materi ajar, (2) siswa membaca sumber lain yang tidak berkaitan dengan tugas yang dihadapi, (3) siswa bermain, tidur-tiduran dan melamun.

Secara teoritis, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa dengan menerapkan pembelajaran group investigation siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Komunikasi antar siswa dalam kelompok dan heterogenitas akan lebih bermakna, sehingga dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dengan menggunakan keterampilan bekerjasama. Siswa yang mengalami kesulitan harus aktif berpikir dan meminta bantuan kepada teman dalam kelompoknya yang lebih mampu secara terarah. Demikian juga, siswa yang lebih mampu harus berpikir untuk membantu teman kelompoknya yang kurang mampu.
 
DAFTAR  PUSTAKA
 
Muslich, M. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.
 
Rahman, A.  2007. Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif untuk Meningkat-kan Aktivitas dan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP Negeri 1 Mandai. Skripsi. Makassar: MIPA UNM.
 

Sunday, 10 January 2016

MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING

 
http://pendidikanuntukindonesiaku2.blogspot.com/2016/01/model-pembelajaran-snowball-throwing.html
MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING
 
Snowball Throwing berasal dari dua kata yaitu “snowball” dan “throwing”. Kata snowball berarti bola salju, sedangkan throwing berarti melempar, jadi snowball throwing adalah melempar bola salju.
Pembelajaran Snowball Throwing merupakan salah satu model dari pembelajaran kooperatif.Pembelajaran Snowball Throwing merupakan model pembelajaran yang membagi muriddi dalam beberapa kelompok, yang dimana masing-masing anggota kelompok membuat bola pertanyaan.
 
Menurut Suprijono (Hizbullah,2011: 8) ,
Snowball Throwing adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana murid dibentuk dalam beberapa kelompok yang heterogen kemudian masing-masing kelompok dipilih ketua kelompoknya untuk mendapat tugas dari guru lalu masing-masing murid membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) kemudian dilempar ke murid lain yang masing-masing murid menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh.

Sedangkan menurut Kisworo (Hardiyanti: 2012) model pembelajaran Snowball Throwing adalah suatu metode pembelajaran yang diawali dengan pembentukan kelompok yang diwakili ketua kelompok untuk mendapat tugas dari guru kemudian masing-masing murid membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke murid lain yang masing-masing murid menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Snowball Throwing adalah suatu model pembelajaran yang membagi murid dalam beberapa kelompok, yang nantinya masing-masing anggota kelompok membuat sebuah pertanyaan pada selembar kertas dan membentuknya seperti bola, kemudian bola tersebut dilempar ke murid yang lain selama durasi waktu yang ditentukan, yang selanjutnya masing-masing murid menjawab pertanyaan dari bola yang diperolehnya.
 
B. Tujuan Pembelajaran Model Snowball Throwing
Menurut Asrori (2010), tujuan pembelajaran Snowball Throwing yaitu melatih murid untuk mendengarkan pendapat orang lain, melatih kreatifitas dan imajinasi murid dalam membuat pertanyaan, serta memacu murid untuk bekerjasama, saling membantu, serta aktif dalam pembelajaran.
Sedangkan menurut Devi (2011) model pembelajaran Snowball Throwing melatih murid untuk lebih tanggap menerima pesan dari orang lain, dan menyampaikan pesan tersebut kepada temannya dalam satu kelompok. Lemparan pertanyaan tidak menggunakan tongkat seperti model pembelajaran Talking Stik akan tetapi menggunakan kertas berisi pertanyaan yang diremas menjadi sebuah bola kertas lalu dilempar-lemparkan kepada murid lain. Murid yang mendapat bola kertas lalu membuka dan menjawab pertanyaannya.
Terdapat beberapa manfaat yang dapat diperoleh dam model pembelajaran  Snowball Throwing diantaranya ada unsur permainan yang menyebabkan metode ini lebih menarik perhatian murid. Sementara menurut Asrori (2010: 3) dalam model pembelajaran Snowball Throwing terdapat beberapa manfaat  yaitu:
1) Dapat meningkatkan keaktifan belajar murid. 2) Dapat menumbuh kembangkan potensi intelektual sosial, dan emosional yang ada di dalam diri murid. 3) Dapat melatih murid mengemukakakn gagasan dan perasaan secara cerdas dan kreatif.
 
Adanya model Snowball Throwing yang dilaksanakan dalam bimbingan kelompok dapat meningkatkan kepercayaan diri muriddalam menyampaikan pendapat. Karena metode Snowball Trowing adalah teknik diskusi yang membentuk kelompok yang diwakili ketua kelompok untuk mendapat tugas dari guru, kemudian masing-masing muridmembuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke muridlain yang masing-masing muridmenjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh. Dengan demikian semua muridmendapat kesempatan untuk bertanya dan menyampaikan pendapat sesuai dengan pertanyaan yang mereka dapat.
Model Snowball Throwing memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan yang ditemukan dalam pelaksanaan pembelajaran model Snowball Throwing menurut Suprijono ( Hizbullah, 2011: 9 ) diantaranya: “(1) Melatih kedisiplinan murid; dan (2) Saling memberi pengetahuan”. Sedangkan menurut Safitri (2011: 19) kelebihan  model Snowball Throwingantara lain :
  1. Melatih kesiapan murid dalam merumuskan pertanyaan dengan bersumber pada materi yang diajarkan serta saling memberikan pengetahuan.
  2. Murid lebih memahami dan mengerti secara mendalam tentang materi pelajaran yang dipelajari. Hal ini disebabkan karena murid mendapat penjelasan dari teman sebaya yang secara khusus disiapkan oleh guru serta mengerahkan penglihatan, pendengaran, menulis dan berbicara mengenai materi yang didiskusikan dalam kelompok.
  3. Dapat membangkitkan keberanian murid dalam mengemukakan pertanyaan kepada teman lain maupun guru.
  4. Melatih murid menjawab pertanyaan yang diajukan oleh temannya dengan baik.
  5. Merangsang murid mengemukakan pertanyaan sesuai dengan topik yang sedang dibicarakan dalam pelajaran tersebut.
  6. Dapat mengurangi rasa takut murid dalam bertanya kepada temanmaupun guru.
  7. Murid akan lebih mengerti makna kerjasama dalam menemukan pemecahan suatu masalah.
  8. Murid akan memahami makna tanggung jawab.
  9. Murid akan lebih bisa menerima keragaman atau heterogenitas suku, sosial,budaya, bakat dan intelegensia.
  10. Murid akan terus termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya
 
Selain itu, model ini juga memiliki kelemahan sebagaimana yang dirumuskan oleh Suprijono (Hizbullah, 2011: 9) diantaranya:   “(1) Pengetahuan tidak luas hanya terkuat pada pengetahuan sekitarmurid; dan (2) Kurang efektif digunakan untuk semua materi pelajaran”.
Langkah-langkah pembelajaran yang ditempuh dalam melaksanakan Model  Snowball Throwing sebagaimana dikemukakan Suprijono (Hizbullah, 2011: 10) adalah sebagai berikut:
  1. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
  2. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi pembelajaran.
  3. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada teman kelompoknya.
  4. Kemudian masing-masing murid diberi satu lembar kerja untuk menuliskan pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.
  5. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu murid ke murid yang lain selama kurang lebih 5 menit.
  6. Setelah tiap murid mendapat satu bola/satu pertanyaan, diberikan kesempatan kepada murid untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.
  7. Guru bersama dengan murid memberikan kesimpulan atas meteri pembelajaran yang diberikan.
  8. Guru memberikan evaluasi sebagai bahan penilaian pemahaman muridakan materi pembelajaran.
  9. Guru menutup pembelajaran dengan memberikan pesan-pesan moral dan tugas di rumah.

DAFTAR PUSTAKA
 
  • Asrori, Mohib. 2010. Penggunaan Model Pembelajaran Snowball Throwing dalam Meningkatkan Keaktifan Belajar pada Anak, (online); http://gurutrenggalek.blogspot.com/2010/09/penggunaan-model-belajar-snowball.html.(diakses 29  Juli 2012)
  • Devi. 2011.  ????
  • Hardiyanti. 2012. Model Pembelajaran Snowball Throwing.(online); http://dataserverku.blogspot.com/2012/02/model-pembelajaran-snowball-throwing.html(diakses 5 Maret 2012)
  • Hizbullah, 2011. Penerapan Model PembelajaranSnowball Throwing Dalam Meningkatkan Hasil Belajar IPA di Kelas V SD Negeri 08 Lumaring Kecamatan Larompong Kabupaten Luwu.Skripsi. Makassar: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar.
  • Safitri, T.Dian. 2011. Metode Pembelajaran Snowball Throwing untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika.(online); http://web.sdikotablitar.sch.id/index.php?option= (diakses 5 Maret 2012)
 

Saturday, 9 January 2016

MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE SCRIPT


http://pendidikanuntukindonesiaku2.blogspot.com/2016/01/model-pembelajaran-cooperative-script.html
MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE SCRIPT

 

A. Pengertian Model Cooperative Script
Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Pengembangan model belajar dimaksudkan agar guru memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif, dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan harus sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, materi, fasilitas, dan guru itu sendiri. Salah satu model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada pembelajaran bidang studi bahasa Indonesia adalah model cooperative script.

Menurut Kiranawati (2007: 2) bahwa “cooperative script adalah model belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari”. Hal semakna dikemukakan Suherman (2008: 19) bahwa “cooperative script adalah model kelompok siswa berpasangan sebangku yang mempelajari wacana, membuat rangkuman, menyajikan hasil diskusi, menyimpulkan, evaluasi dan refleksi”.

Sedangkan Slavin (Muslich, 2007: 229) menyatakan bahwa:
Pembelajaran kooperatif script merupakan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis atas dasar teori bahwa siswa akan mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka saling mendiskusikan konsep-konsep tersebut dengan temannya.


Berdasarkan beberapa pengertian yang dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran model cooperative script adalah model belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian materi yang dipelajari untuk memecahkan masalah.

 
B. Langkah-langkah Pembelajaran Model Cooperative Script
Model pembelajaran kooperatif dengan berbagai macam tipenya, pada dasarnya dibangun oleh falsafah pemecahan masalah melalui kerjasama dan gotong royong. Pembelajaran kooperatif menekankan pada pembelajaran kelompok kecil beranggotakan 2 sampai 6 orang. Menurut Muslich (2007: 22) bahwa “agar pembelajaran kooperatif dapat berjalan dengan baik siswa terlebih dahulu dilatih keterampilan kooperatif sebelum pembelajaran kooperatif tersebut digunakan”. Hal ini dilakukan agar siswa memiliki keterampilan yang diperlukan. Keterampilan kooperatif yang dilatih seperti mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan/menanggapi, menyampaikan pendapat, mendengarkan secara aktif, berada dalam tugas, dan sebagainya.

Adapun langkah-langkah pembelajaran model cooperative script menurut Suherman (2008: 19) adalah:

1) Buat kelompok berpasangan sebangku
2) Bagikan wacana  materi bahan ajar
3) Siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman
4) Sajikan hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi
5) Lakukan pertukaran peran
6) Lakukan penyimpulan, evaluasi dan refleksi.

Sedangkan Kiranawati (2007: 2) mengemukakan langkah-langkah pembelajaran model cooperative script sebagai berikut:
  1. Guru membagi siswa untuk berpasangan.
  2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
  3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
  4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat/menghapal ide-ide pokok dengan menghubung-kan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
  5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas.
  6. Kesimpulan guru.
  7. Penutup
C. Kelebihan dan Kelemahan Model Cooperative Script
Kiranawati (2007: 3) mengemukakan kelebihan dan kekurangan model cooperative script, yakni:
1) Kelebihan:
  • Melatih pendengaran, ketelitian / kecermatan.
  • Setiap siswa mendapat peran.
  • Melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan.
2) Kekurangan
  • Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu
  • Hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang).
 
Adapun dalam modul Pelatihan Terintegrasi disebutkan manfaat pembelajaran model kooperatif (Depdiknas, 2005: 21) sebagai berikut:
  1. Meningkatkan kemampuan untuk bekerjasama dan bersosialisasi.
  2. Melatih kepekaan diri, empati melalui variasi perbedaan sikap dan perilaku selama kerjasama.
  3. Meningkatkan motivasi belajar, harga diri dan sikap perilaku yang positif, sehingga siswa akan tahu kedudukan-nya dan belajar untuk saling menghargai satu sama lain.
  4. Mengurangi rasa kecemasan dan menumbuhkan rasa percaya diri.
  5. Meningkatkan prestasi belajar dengan menyelesaikan tugas akademik, sehingga membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit.
 
DAFTAR  PUSTAKA
 
Depdiknas. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi Mata Pelajaran Sains. Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.

Kiranawati. 2007. Cooperative Script. (http//gurupkn.wordpres.com. diakses tanggal 18 Desember 2008.

Muslich, M. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.

Suherman, E. 2008. Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi Siswa. (www.suherman.blogspot.com, diakses tanggal 18 Desember 2008).
 
 
 
 
 
 
 
 

Friday, 8 January 2016

MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN

MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN
 
MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN
A. Pengertian Model Time Token
Pembelajaran berhubungan erat dengan belajar dan mengajar. Belajar, mengajar dan pembelajaran terjadi bersama-sama. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain. Sedangkan mengajar meliputi segala hal yang guru lakukan di dalam kelas. Pembelajaran merupakan suatu aktivitas yang disengaja untuk memodifikasi berbagai kondisi yang diarahkan untuk tercapainya suatu tujuan yaitu tercapainya tujuan pembelajaran atau kurikulum.
Salah satu proses modifikasi kondisi di dalam kelas adalah keterampilan guru dalam menggunakan model pembelajaran. Model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Pengembangan model belajar dimaksudkan agar guru memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif, dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan harus sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, materi, fasilitas, dan guru itu sendiri.
Salah satu model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan keterampilan menyimak pada pembelajaran bidang studi bahasa Indonesia adalah model time token. Menurut Suherman (2009: 11) bahwa “model time token (tanda waktu) adalah model yang pertama kali digunakan oleh Arebds pada tahun 1998 untuk melatih dan mengembangkan keterampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali”.
Berdasarkan pengertian di atas maka disimpulkan bahwa model time token adalah model pembelajaran tanda waktu yang melatih dan mengembangkan keterampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali karena mereka berkonsentrasi menyimak pembicaraan.
 
B. Langkah-langkah Pembelajaran Model Time Token
Menurut Suherman (2009: 11) bahwa sintak dari model pembelajaran time token adalah:
  1. Kondisikan kelas dalam bentuk kelompok kecil yang bersifat kooperatif.
  2. Guru menyediakan kupon bernomor yang berisi bahan pembicaraan atau teks informatif.
  3. Tiap kelompok mengambil kupon bahan pembicaraan/teks informatif.
  4. Wakil kelompok (siswa) berbicara atau model pidato berdasarkan bahan pada kupon yang telah diambil dengan waktu yang telah ditentukan.
  5. Siswa pada kelompok yang lain berkonsentrasi menyimak bahan pembicaraan dan melakukan pencatatan terhadap point-point penting pembicaraan.
  6. Guru mengontrol tanda waktu (time token) yang menandakan pembicaraan/teks informatif dibacakan selesai.
  7. Setelah selesai kupon dikembalikan.
  8. Selanjutnya giliran kelompok yang lain.
Hal penting yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran model time token adalah penentuan ragam teks informatif. Sebagai sumber informasi lisan, menurut Bustanul (2007: 1-2) “teks informatif terdapat dalam berbagai bentuk berikut, yaitu: (1) teks berita, (2) teks ceramah, (3) teks pidato, (4) teks opini, dan (5) teks prosedural”.
1) Teks Berita
Teks berita, yaitu teks yang memuat informasi tentang kabar atau pemberitahuan tentang suatu hal, yang disampaikan secara langsung oleh pembicara atau pembawa pesan atau melalui radio dan televisi. Bahasa yang digunakan di dalam teks berita bersifat lugas dan tegas.
2) Teks Ceramah
Kata ceramah asal mulanya dalam bahasa Melayu berarti nyinyir, banyak bicara, cerewet. Kata ini mengalami perkembangan makna menjadi positif, yaitu menyampaikan sesuatu di hadapan orang banyak untuk menambah pengetahuan, pengalaman atau informasi tertentu.
3) Teks Pidato
Teks pidato, yaitu teks pembicaraan seseorang secara langsung (tatap muka) di hadapan orang banyak memuat arahan atau kebijakan tentang hal tertentu. Keberhasilan seseorang di dalam berpidato ditandai oleh antusiasnya pendengar mendengarkan isi pidatonya. Seseorang yang berpidato dengan nada bervariasi dan bersemangat, akan membuat pendengar juga bersemangat, begitupun sebaliknya.
4) Teks Opini
Opini berarti pendapat, pikiran pendirian atau pandangan. Teks opini ialah yang memuat pendapat, pikiran, pendirian atau pandangan seseorang tentang masalah tertentu sedang hangat dibicarakan di masyarakat. Opini dapat juga memuat kritik terhadap orang atau lembaga yang menangani masalah tertentu. Opini seseorang tentang suatu hal dapat di simak melalui ceramah, pidato, wawancara, ceramah, diskusi atau talk show.
5) Teks Prosedural
Teks prosedural adalah teks yang memuat butir-butir atau langkah-langkah kegiatan tertentu berupa petunjuk yang mudah diikuti pelaksanaanya. Di televisi sering ditayangkan acara melakukan sesuatu, misalnya acara membuat masakan, acara menjaga kesehatan, langkah yang dilalui dalam mengatasi suatu masalah dan lain-lain.
 
C. Manfaat Model Time Token
Model pembelajaran time token merupakan salah satu model pembelajaran yang juga menerapkan unsur-unsur dasar pembelajaran yang bersifat kooperatif. Menurut Wena, M. (2009: 190-192) mengemukakan manfaat yang dapat diambil dari model time token adalah:
1) Mengembangkan keterampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Di mana dalam pembelajaran ini, siswa diberi kesempatan untuk menyampaikan pembicaraan atau membaca teks informatif, sementara yang lain tidak hanya sekadar mendengarkan melainkan mendengarkan yang penuh konsentrasi (menyimak) dan menulis item-item penting dari penyampaian pembicaraan atau pembacaan teks informatif temannya.
2) Saling ketergantungan positif (positive interdependence), dalam hal ini ketergan-tungan dalam pencapaian tujuan pembelajaran, ketergantungan dalam menyele-saikan tugas, ketergantungan bahan atau sumber belajar, dan ketergantungan peran.
3) Interaksi tatap muka (face to face interaction), di mana siswa belajar untuk tidak canggung dan tampil percaya diri dihadapan khalayak ramai, sehingga menjadi bekal dalam interaksi sosial di masa datang.
4) Keterampilan untuk menjalin hubungan antarpribadi, kelompok atau keterampilan sosial yang sengaja diajarkan (use of collarative/social skill). Di mana dalam pembelajaran yang berbentuk kelompok kecil, maka setiap anggota harus belajar dan menyumbangkan kemampuan terbaiknya demi keberhasilan kelompoknya.
 
 
DAFTAR PUSTAKA
  • Bustanul, A. 2007. Hakikat Menyimak Teks Informatif. Cetakan I. Jakarta: Universitas Terbuka.
  • Suherman, E. 2009. Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi Siswa. Educare; Jurnal Pendidikan dan Budaya. ISSN 1412-579x, (Online) http://educare.e-fkipunla.net, (diakses tanggal 30 Juni 2009).
  • Wena, M. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer; Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Cetakan I. Jakarta: Bumi Aksara.
 
 

Monday, 21 December 2015

MODEL PEMBELAJARAN TIPE TGT (TEAMS GAMES TOURNAMENTS)

MODEL PEMBELAJARAN TIPE TGT (TEAMS GAMES TOURNAMENTS)
 
Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournaments)
Pembelajaran kooperatif terdiri atas beberapa tipe, salah satu diantaranya adalah tipe TGT (teams games tournaments). Menurut Saco (2006), dalam TGT siswa memainkan permainan dengan anggota tim lain untuk memperoleh skor tinggi bagi tim mereka masing-masing. Permainan dapat disusun guru dalam bentuk quiz menggunakan kartu bernomor yang berkaitan dengan materi pelajaran.
Permaianan dalam pembelajaran tipe TGT dapat berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. Tiap siswa anggota kelompok akan mengambil sebuah kartu yang telah diberi nomor dan menjawab pertanyaan yang ada pada kartu tersebut sehingga memberikan sumbangan bagi pengumpulan kelompoknya.
Turnamen harus memungkinkan semua siswa dari semua tingkat kemampuan (kepandaian) untuk menyumbangkan poin bagi kelompoknya. Aturannya dapat berupa, soal yang sulit untuk anak pintar, dan soal yang lebih mudah untuk anak yang kurang pintar. Hal ini dimaksudkan agar semua anak mempunyai kemungkinan memberi skor pada kelompoknya. Namun semua soal nantinya apakah yang mudah atau sulit harus diketahui oleh seluruh anggota kelompok.
 
Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
Dalam kaitannya dengan pembelajaran kooperatif, menurut Arends (Muslich, 2007: 230) terdapat enam sintaks atau tahapan (fase) yang dapat dilakukan guru.
Adapun tahap-tahap (skenario) yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah: 1) Pembentukan kelompok, 2) Pemberian materi, 3) Belajar kelompok, 4) Turnamen, 5) Skor Individu, 6) Skor Kelompok, dan 7) Penghargaan.
 
Fase Kegiatan Guru
  • Fase – 1 => Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa. Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
  • Fase – 2  => Menyajikan informasi. Guru menyampaikan informasi singkat sebagai pendahuluan terkait dengan materi ajar.
  • Fase – 3 => Mengorganisasikan siswa ke dalam kelom-pok-kelompok belajar. Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan permainan secara efektif dan efisien.
  • Fase – 4  => Membimbing kelompok bekerja dan belajar. Guru membimbing pembentukan kelompok-kelompok belajar pada saat mereka akan melakukan permainan.
  • Fase – 5 => Evaluasi. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau hasil permainan kuis dari masing-masing kelompok.
  • Fase – 6 => Memberikan penghargaan.  Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
Sumber: Muslich (2007: 230).
Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam permainan kelompok dalam bentuk kuis sebagai berikut:
  1. Guru membagi siswa ke dalam 6 (enam) kelompok, di mana tiap kelompok terdiri dari lima orang yang bersifat heterogen.
  2. Guru menyampaikan aturan-aturan yang terkait dengan permainan, di antaranya: a) Siswa dalam kelompoknya masing-masing dapat mendiskusikan siapa anggota kelompok yang ditugaskan menjawab pertanyaan pada kartu kuis sesuai dengan tingkat kemudahan/kesulitan pertanyaan. Hal ini menjadi aturan dalam permainan agar semua anggota kelompok memiliki partisipasi memberikan skor kepada kelompoknya agar dapat menjadi pemenang, b) Anggota kelompok lain yang belum gilirannya bermain untuk tidak mengeluarkan pernyataan apapun terkait dengan pertanyaan kuis. Jika hal ini dilanggar maka kelompok yang anggotanya melanggar diberi sanksi dalam bentuk pengurangan skor, meskipun belum bermain.
  3. Permainan dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama, guru meminta masing-masing 1 anggota dari kelompok 4, 5, dan 6 yang bertugas sebagai pelaksana dan kelompok 1, 2, dan 3 sebagai peserta permainan. 1 orang dari pelaksana bertugas membacakan soal dari kartu yang diambil oleh anggota kelompok yang bermain, 1 orang bertugas mencatat skor yang diperoleh masing-masing kelompok peserta permainan, dan 1 orang memegang kunci jawaban dari kartu kuis.
  4. Untuk sesi kedua, guru meminta masing-masing 1 anggota dari kelompok 1, 2, dan 3 yang bertugas sebagai pelaksana dan kelompok 4, 5, dan 6 sebagai peserta permainan. 1 orang dari pelaksana bertugas membacakan soal dari kartu yang diambil oleh anggota kelompok yang bermain, 1 orang bertugas mencatat skor yang diperoleh masing-masing kelompok peserta permainan, dan 1 orang memegang kunci jawaban dari kartu kuis.
  5. Pada permainan pertama, kartu kuis yang disediakan sebanyak 15 kartu sesuai dengan jumlah anggota dari kelompok 1, 2, dan 3 sebagai peserta kuis, sedangkan untuk permainan kedua kartu kuis yang disediakan juga 15 kartu sesuai dengan jumlah anggota dari kelompok 4, 5, dan 6 sebagai peserta kuis.
  6. Selama permainan berlangsung peneliti dan teman sejawat (guru) yang ditugaskan untuk mengisi format observasi melakukan pengamatan terhadap seluruh aktivitas siswa.
  7. Setelah permainan sesi pertama selesai, siswa yang bertugas mencatat skor permainan membacakan skor masing-masing kelompok dan mengumumkan siapa pemenangnya.
  8. Guru memberikan penghargaan dalam bentuk pujian dan jaminan nilai hasil belajar yang baik kepada kelompok pemenang, sedangkan kelompok yang skor rendah diberi motivasi agar belajar lebih giat lagi dan setiap anggota agar dapat menyerap informasi sebanyak-banyaknya terkait dengan materi ajar agar memiliki kontribusi terhadap kelompoknya.
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Muslich, M. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.
 
Saco. 2006. Cooperatif Learning. (online). http://fromlearningftoteaching.blogspot.com

Posting Lama ►
 

Find Us On Facebook